Rabu, 29 Mei 2013


Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat

Proses KGD

Proses dalam KGD meliputi :

1. Pengkajian
2. Perencanaan
3. Pelaksanaan
4. Evaluasi
5. Dokumentasi

PPGD (Penanggulangan Penderita Gawat Darurat)


Suatu pertolongan yang cepat dan tepat untuk mencegah kematian maupun kecatatan. Berasal dari istilah critical ill patient (pasien kritis/gawat) dan emergency patient (pasien darurat).

Tujuan PPGD

1. Mencegah kematian dan kecacatan (to save life and limb) pada penderita gawat darurat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
2. Merujuk penderita . gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang Iebih memadai.
3. Menanggulangi korban bencana.

Penderita Gawat Darurat

Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu sistem/organ di bawah ini yaitu :

1.Susunan saraf pusat
2.Pernapasan
3.Kardiovaskuler
4.Hati
5.Ginjal
6.Pancreas


Penyebab Kegagalan Organ

1. Trauma/cedera3
2. lnfeksi
3. Keracunan (poisoning)
4. Degenerasi (failure)
5. Asfiksi
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolit)
7. Dan lain-lain.

Kegagalan sistim susunan saraf pusat, kardiovskuler, pernapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit), sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama.

Mati

Mati Klinis :
Otak kekurangan Oksigen dlm 6-8 mnt
Terjadi gangguan fungsi
Sifat Reversible

Mati Biologis :
Otak kekurangan Oksigen dlm 8-10 mnt
Terjadi kerusakan sel
Sifat Ireversible

Kategori Kasus Penyebab Kematian

Immediately Life Threatening Case :
1. Obstruksi Total jalan Napas
2. Asphixia
3. Keracunan CO
4. Tension Pneumothorax
5. Henti jantung
6. Tamponade Jantung

Potentially Life Threatening Case
1. Ruptura Tracheobronkial
2. Kontusio Jantung / Paru
3. Perdarahan Masif
4. Koma

Kelompok kasus yang perlu penanganan segera karena adanya ancaman kecatatan
1. Fraktur tulang disertai cedera pada persyarafan
2. Crush Injury
3. Sindroma Kompartemen

Faktor Penentu Keberhasilan PPGD

1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat
2. Kecepatan meminta pertolongan
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan di tempat kejadian, dalam perjalanan ke rumah sakit dan pertolongan selanjutnya di puskesmas atau rumah sakit

Filosofi Dasar PPGD

1. Universal
2. Penanganan oleh siapa saja
3. Penyelesaian berdasarkan masalah


Prinsip 

1. Penanganan cepat dan tepat
2. Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien tersebut
( awam, perawat, dokter)

Meliputi tindakan :
A. Non medis : Cara meminta pertolongan, transportasi, menyiapkan alat-alat.
B. Medis : Kemampuan medis berupa pengetahuan maupun ketrampilan : BLS, ALS

Triage

Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan.



1. Gawat darurat – merah

Kelompok pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.

2. Gawat tidak darurat – putih

Kelompok pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya kanker stadium lanjut.

3. Tidak gawat, darurat – kuning

Kelompok pasien akibat musibah yang datag tiba-tiba, tetapi tidak mĂȘngancam nyawa dan anggota badannya, misanya luka sayat dangkal.

4. Tidak gawat, tidak darurat – hijau,
5. Meninggal - hitam

Lingkup PPGD

1. Melakukan Primary Survey, tanpa dukungan alat bantu diagnostik kemudian dilanjutkan dengan Secondary Survey
2. Menggunakan tahapan ABCDE

A : Airway management
B : Breathing management
C : Circulation management
D : Drug
Defibrilator
Disability
DD/
E : EKG
Exposure

3. Resusitasi pada kasus dengan henti napas dan henti jantung

Pada kasus-kasus tanpa henti napas dan henti jantung, maka upaya penanganan harus dilakukan untuk mencegah keadaan tsb, misal pasien koma dan pasien dengan trauma inhalasi atau luka bakar grade II-III pada daerah muka dan leher.

Peran & Fungsi Perawat Gadar

1. Fungsi Independen

Fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian asuhan (Care)

2. Fungsi Dependen

Fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau sebagian dari profesi lain

3. Fungsi Kolaboratif

Kerjasama saling membantu dlm program kes. (Perawat sebagai anggota Tim Kes.)



Kemampuan Minimal Perawat UGD (Depkes, 1990)

1. Mengenal klasifikasi pasien
2. Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung paru otak, kejang, koma, perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah pinggul & kasus ortopedi.
3. Mampu melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan gawat darurat
4. Mampu melaksanakan komunikasi eksternal dan internal


Aspek Hukum Dalam KGD

Pemahaman terhadap aspek hukum dalam KGD bertujuan meningkatkan kualitas penanganan pasien dan menjamin keamanan serta keselamatan pasien. Aspek hukum menjadi penting karena konsensus universal menyatakan bahwa pertimbangan aspek legal dan etika tidak dapat dipisahkan dari pelayanan medik yang baik.

Tuntutan hukum dalam praktek KGD biasanya berasal dari :

1. Kegagalan komunikasi
2. Ketidakmampuan mengatasi dillema dalam profesi

Permasalahan etik dan hukum KGD merupakan isu yang juga terjadi pada etika dan hukum dalam kegawatdaruratan medik yaitu :

1. Diagnosis keadaan gawat darurat
2. Standar Operating Procedure
3. Kualifikasi tenaga medis
4. Hak otonomi pasien : informed consent (dewasa, anak)
5. Kewajiban untuk mencegah cedera atau bahaya pada pasien
6. Kewajiban untuk memberikan kebaikan pada pasien (rasa sakit, menyelamatkan)
7. Kewajiban untuk merahasiakan (etika >< hukum)
8. Prinsip keadilan dan fairness
9. Kelalaian
10. Malpraktek akibat salah diagnosis, tulisan yang buruk dan kesalahan terapi : salah obat, salah dosis
11. Diagnosis kematian
12. Surat Keterangan Kematian
13. Penyidikan medikolegal untuk forensik klinik : kejahatan susila, child abuse, aborsi dan kerahasiaan informasi pasien

Permasalahan dalam KGD dapat dicegah dengan :

1. Mematuhi standar operating procedure (SOP)
2. Melakukan pencatatan dengan bebar meliputi mencatat segala tindakan, mencatat segala instruksi dan mencatat serah terima.

Sabtu, 25 Mei 2013

manajemen keperawatan

manajemen keperawatan


Manajemen adalah proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya orang lain. Menurut P. Siagian, manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas – batas yang telah ditentukan pada tingkat administrasi. Sedangkan Liang Lie mengatakan bahwa manajemen adalah suatu ilmu dan seni perencanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari benda dan manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
Sedangkan manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 1989).
Kita ketahui disini bahwa manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber – sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyrakat.
Fungsi – Fungsi Manajemen
Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut :
a. Perenacanaan (planning), perncanaan merupakan :
1) Gambaran apa yang akan dicapai
2) Persiapan pencapaian tujuan
3) Rumusan suatu persoalan untuk dicapai
4) Persiapan tindakan – tindakan
5) Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja
6) Tiap – tiap organisasi perlu perencanaan
b. Pengorganisasian (organizing), merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat – alat, keuangan dan fasilitas.
c. Penggerak (actuating), menggerakkan orang – orang agar mau / suka bekerja. Ciptakan suasana bekerja bukan hanya karena perintah, tetapi harus dengan kesadaran sendiri, termotivasi secara interval
d. Pengendalian / pengawasan (controling), merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang – orangnya, cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
e. Penilaian (evaluasi), merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil – hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.
Adapun unsur yang dikelola sebagai sumber manajemen adalah man, money, material, methode, machine, minute dan market.
Prinsip – Prinsip Manajemen
Prinsip – prinsip manajemen menurut Fayol adalah
a. Division of work (pembagian pekerjaan)
b. Authority dan responsibility (kewenangan dan tanggung jawab)
c. Dicipline (disiplin)
d. Unity of command (kesatuan komando)
e. Unity of direction (kesatuan arah)
f. Sub ordination of individual to generate interest (kepentingan individu tunduk pada kepentingan umum)
g. Renumeration of personal (penghasilan pegawai)
h. Centralization (sentralisasi)
i. Scalar of hierarchy (jenjang hirarki)
j. Order (ketertiban)
k. Stability of tenure of personal (stabilitas jabatan pegawai)
l. Equity (keadilan)
m. Inisiative (prakarsa)
n. Esprit de Corps (kesetiakawanan korps)
Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka dimana masing – masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel, peralatan dan fasilitas. Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.
Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang standar dan akreditasi. Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan, survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.
Prinsip-Prinsip yang Mendasari Manajemen Keperawatan
Prinsip – prinsip yang mendasari manajemen keperawatan adalah :
a. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
b. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.
d. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
e. Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
f. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
g. Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
h. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
i. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
j. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip – prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama – sama dalamperenacanaan danpengorganisasian serta fungsi – fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Lingkup Manajemen Keperawatan
Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat didalamnya.
Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Kegiatan perawat pelaksana meliputi:
a. Menetapkan penggunakan proses keperawatan
b. Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa
c. Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
d. Menerima akuntabilitas untuk hasil – hasil keperawatan
e. Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan
Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para manajer keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan melibatkan para perawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri dari:
a. Manajemen operasional
Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu:
1) Manajemen puncak
2) Manajemen menengah
3) Manajemen bawah
Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang – orang tersebut agar penatalaksanaannya berhasil. Faktor – faktor tersebut adalah
1) Kemampuan menerapkan pengetahuan
2) Ketrampilan kepemimpinan
3) Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
4) Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen
b. Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep – konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi.
Persyaratan Ruangan Menjalankan MPKP
Syarat-syarat Ruangan menjalankan MPKP adalah sebagai berikut:
a. Memiliki fasilitas perawatan yang memadai.
b. Memiliki jumlah perawat minimal sejumlah tempat tidur yang ada.
c. Memiliki perawat pendidikan yang telah terspesialisasi
d. Seluruh perawat telah memiliki kompetensi dalam perawatan primer.

keperawatan martenitas


KEPERAWATAN MARTENITAS 

Keperawatan maternitas merupakan salah satu bentuk pelayanan profesional keperawatan yang ditujukan kepada wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya, berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai kesejahteraan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Setiap individu mempunyai hak untuk lahir sehat maka setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keperawatan ibu menyakini bahwa peristiwa kelahiran merupakan proses fisik dan psikis yang normal serta membutuhkan adaptasi fisik dan psikososial dari idividu dan keluarga. Keluarga perlu didukung untuk memandang kehamilannya sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan. Upaya mempertahankan kesehatan ibu dan bayinya sangat membutuhkan partisipasi aktif dari keluarganya.

Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga, dapat mengakibatkan krisis situasi selama anggota keluarga tidak merupakan satu keluarga yang utuh. Proses kelahiran merupakan permulaan bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting. Pelayanan keperawatan ibu akan mendorong interaksi positif dari orang tua, bayi dan angggota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga.. Sikap, nilai dan perilaku setiap individu dipengaruhi oleh budaya dan social ekonomi dari calon ibu sehingga ibu serta individu yang dilahirkan akan dipengaruhi oleh budaya yang diwarisi.

Asuhan keperawatan yang diberikan bersifat holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan advokasi dan mendidik WUS dan melakukan tindakan keperawatan dalam mengatasi masalah kehamilanpersalinan dan nifas, membantu dan mendeteksi penyimpangan-penyimpangan secara dini dari keadaan normal selama kehamilan sampai persalinan dan masa diantara dua kehamilan, memberikan konsultasi tentang perawatan kehamilan, pengaturan kehamilan, membantu dalam proses persalinan dan menolong persalinan normal, merawat wanita masa nifas dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari menuju kemandirian, merujuk kepada tim kesehatan lain untuk kondisi­kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Perawat mengadakan interaksi dengan klien untuk mengkaji masalah kesehatan dan sumber-sumber yang ada pada klien, keluarga dan masyarakat; merencanakan dan melaksanakan tindakan untuk mengatasi masalah-maslah klien, keluarga dan masyarakat; serta memberikan dukungan pada potensi yang dimiliki klien dengan tindakan keperawatan yang tepat. Keberhasilan penerapan asuhan keperawatan memerlukan kerjasama tim yang terdiri dari pasien, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat.
PARADIGMA KEPERAWATAN MATERNITAS


Paradigma keperawatan pada keperawatan maternitas meliputi manusia, lingkungan, sehat dan keperawatan.

a. Manusia
Terdiri dari wanita usia subur wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya adalah anggota keluarga yang unik dan utuh, merupakan mahluk bio-psiko­sosial dan spiritual yang memiliki sifat berbeda secara individual dan dipengaruhi oleh usia dan tumbuh kembangnya. Salah satu tugas perkembangan wanita adalah pengalaman melahirkan danak yang dapat merupakan krisis situasi dalam keluarga tersebut apabila tidak mampu beradaptasi dengan baik.

b. Lingkungan
Sikap, nilai dan prerilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya dan social disamping pengaruh fisik Proses kehamilan danpersalinan serta nifas akan melibatkan semua anggota keluarga dan masyarakat. Proses kelahiran merupakan permulaan suatu bentuk hubungan baru dalam keluarga yang sangat penting, sehingga pelayanan maternitas akan mendorong interaksi yang positif dari orang tua, bayi dan angota keluarga lainnya dengan menggunakan sumber-sumber dalam keluarga.

c. Sehat
Sehat adalah suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan dasar, bersifat dinamis dimana perubahan-perubahan fisik dan psikososial mempengaruhi kesehatan seseorang.setiap indivisu memeiliki hak untuk lahir sehat sehingga WUS dan ibu memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

d. Keperawatan Ibu
Keperawatan ibu merupakan pelayanan keperawatan professional yang ditujukan kepada wanita usia subur wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan system reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Keperawatan ibu memberikan asuhan keperawatan holistik dengan selalu menghargai klien dan keluarganya serta menyadari bahwa klien dan keluarganya berhak menentukan perawatan yang sesuai untuk dirinya.



Kamis, 23 Mei 2013

keperawatan komunitas


Keperawatan kesehatan dan keperawatan komunitas

 
Perawatan Kesehatan adalah sebagai suatu lapangan khusus bidang kesehatan,
ketrampilan hubungan antar manusia, organisasi, anggota profesi kesehatan lain
dan  kepada  tenaga  social  demi  memelihara  kesehatan  masyarakat  (Ruth  B.
Freeman, 1961).
Oleh karenanya perawatan kesehatan masyarakat ditujukan kepada peningkatan
kesehatan,  pemeliharaan,  penyuluhan,  koordinasi  dan  pelayanan  keperawatan
berkelanjutan dipergunakan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif.

 KONSEP DASAR MASYARAKAT
Definisi :
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah
lain saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu
sistem adat istiadat  tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa
identitas bersama (Kontjaraningrat, 1990).
Masyarakat  atau  komunitas  adalah  menunjuk  pada  bagian  masyarakat  yang
bertempat  tinggal  di  suatu  wilayah  (dalam  arti  geografi)  dengan  batas -batas
tertentu, di mana yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar  dari
anggota-anggotanya,  dibandingkan  dengan  penduduk  diluar  batas  wilayahnya.
(Soerdjono Soekanto, 1982).
Masyarakat  adalah  sekelompok  manusia  yang  mendiami  teritorial  tertentu  dan
adanya  sifat-sifat  yang  saling  tergantung,  adanya  pembagian  kerja  dan
kebudayaan bersama. (Mac Iaver, 1957).
Masyarakat  merupakan  sekelompok  manusia  yang  telah  cukup  lama  hidup  &
bekerjasama, sehingga dapat mengorganisasikan diri dan berfikir tentang dirinya
sebagai satu kesatuan social dengan batas -batas tertentu (Linton, 19 36).
CIRI – CIRI MASYARAKAT
Interaksi diantara sesama anggota masyarakat
Menempati wilayah dengan batas – batas tertentu
Saling tergantung satu dengan lainnya
Memiliki adat istiadat tertentu / kebudayaan
Memiliki identitas bersama
TIPE – TIPE MASYARAKAT (Menurut Gilin & Gilin)
Dilihat dari sudut perkembangannnya :
1. Cresive Institution
Lembaga masyarakat yang paling primer, merupakan lembaga -lembaga yang
secara tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat, misalnya yang
menyangkut; hak milik, perkaw inan, agama, dsb.
2. Enacted Institution
Lembaga  kemasyarakatan  yang  sengaja  dibentuk  untuk  memenuhi  tujuan
tertentu, misalnya; lembaga perdagangan, pertanian, pendidikan, dsb.

Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat :
1. Basic Institution
Adalah lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan
mempertahankan  tata  tertib  dalam  masyarakat,  diantaranya  keluarga,
sekolah yang dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.
2. Subsidiary Institution
Lembaga-lembaga  kemasyarakatan  yang  munc ul  tetapi  dianggap  kurang
penting  karena  untuk  memenuhi  kegiatan –  kegiatan  tertentu  saja,  missal;
kepanitian wisuda.
Dari sudut penerimaan masyarakat :
1. Approved atau social sanctioned institution
Lembaga yang diterima oleh masyarakat, missal; sekolah, ko perasi,dll.
2. Unsanctioned institution
Lembaga  yang  ditolak  oleh  masyarakat  walaupun  masyarakat  tidak  dapat
memberantas, missal; penjahat, pelacur, perjudian, dll.
Dari sudut penyebarannya :
1. General institution
Lembaga  masyarakat  yang  didasarkan  atas  fakto r  penyebarannya,  missal;
agama.
2. Restricted institution
Lembaga  agama  yang  dianut  oleh  masyarakat  tertentu  saja,  missal;  hindu -
bali, islam-arab, dll.
Dari sudut fungsi :
1. Operative institution
Lembaga  masyarakat  yang  menghimpun  pola -pola  atau  tata  cara  yang
diperlukan  untuk  mencapai  tujuan  lembaga  yang  bersangkutan,  missal;
lembaga industri.
2. Regulative institution
Lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat  atau tata kelakuan
yang  tidak  menjadi  bagian  mutlak  daripada  lembaga  itu  sendiri,  misal;
kejaksaan, pengadilan, dll.

CIRI – CIRI MASYARAKAT INDONESIA
1. Masyarakat Desa
Hubungan keluarga & masyarakat kuat
Didasarkan pada adat istiadat
Ekonomi sebagian besar hanya berorientasi pada kebutuhan keluarga
Semangat gotong royong.

2. Masyarakat Madya
Hubungan social masyarakat sedikit menurun
Timbul rasionalitas dalam berfikir
Ekonomi masyarakat mengarah pada produksi pemasaran
Sistem gotong royong mulai menurun.



3. Masyarakat Modern
Hubungan manusia berdasarkan kepentingan pribadi
Masyarakatnya mulai berorientasi  pada ilmu pengetahuan & teknologi
Tingkat pendidikan formal tinggi & merata
Strata masyarakat digolongkan pada profesi & keahlian Kemajuan sistem ekonomi.
CIRI – CIRI MASYARAKAT SEHAT
a. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat
b. Mampu mengenal, mencegah & meningkatkan nilai kesehatan
c. Peningkatan mutu lingkungan hidup
d. Adanya peningkatan status gizi sesuai dengan peningkatan ekonomi
e. Terjadinya penurunan angka kesakitan dan kematian
INDIKATOR CIRI MASYARAKAT SEHAT (menurut WHO)
1. Berhungan status kesehatan masyarakat, meliputi
a. Indikator komprehensif
Angka kematian kasar menurun
Rasio angka mortalitas proporsional rendah
Umur harapan hidup meningkat
b. Indikator Spesifik
Angka kematian ibu & anak menurun
Angka kematian karena penyakit menular menurun
Angka kelahiran menurun
2. Indikator Pelayanan Kesehatan
a. Rasio antara Nakesh & jumlah penduduk seimbang
b. Distribusi tenaga kesehatan merata
c. Informasi lengkap tentang fasilitas kesehatan
d. Informasi tentang sarana Yankesh RS, Puskesmas, dll.

Keperawatan komunitas
menurut:



ANA  (1973),  Suatu  sintesa  dari  praktik  keperawatan  dan  praktek
kesehatan  masyarakat  yang  diterapkan  untuk  meningkatkan  dan  memelihara
kesehatan penduduk.
WHO  (1974),  Mencakup  perawatan  kesehatan  keluarga (Nurse  health
family)  dan juga  meliputi  kesehatan  dan  kesejahteraan  masyarakat  luas,
membantu  masyarakat  mengidentifikasi  masalah  kesehatan  sendiri  serta
memecahkan masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada
pada mereka sebelum mereka meminta bantuan kepada orang l ain.
Ruth  B.  Freeman  (1981),   Keperawatan  komunitas  adalah  kesatuan
yang  unik  dari  praktek  keperawatan  dan  kesehatan  masyarakat  yang  ditujukan
kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan kesehatan baik diri sendiri
sebagai perorangan maupun secara kolekt if sebagai keluarga, kelompok khusus
atau  masyarakat  dan  pelayanan  tersebut  mancakup  spectrum  pelayanan
kesehatan untuk masyarakat.
Departemen  Kesehatan  RI  (1986),   Keperawatan  kesehatan
masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang me rupakan bagian
integral  dari  pelayanan  kesehatan  yang  di  laksanakan  oleh  perawat  dengan
mengikutsertakan  taem  kasehatan  lainnya  dan  masyarakat  untuk  memperoleh
tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat.
Pradley  (1985),  Logan  dan  Dawkin,  1987,  Keperawatan  komunitas
adalah  pelayanan  keperwatan  professional  yang  di  tujukan  kepada  masyarakat
dengan  penekanan  pada  kelompok  resiko  tinggi,  dalam  upaya  pencapaian
derajat  kesehatan  yang  optimal  melalui  pencegahan  penykit  d an  peningkatan
kesehatan,  dengan  menjamin  keterjangkauan  pelayanan  kesehatan  yang  di
butuhkan,  dan  melibatkan  klien  sebagai  mitra  dalam  perencanaan  pelaksanaan
dan evaluasi pelayanan keperawatan.
Rapat  Kerja  Keperawatan  Kesehatan  Masyarakat  (199 0),
Mendefinisikan  sebagai  suatu  bidang  keperawatan  yang  merupakan  perpaduan
antara keperawatandan kesehatan masyarakat (Public Health) dengan dukungan
peran serta masyarakat secara aktif dan mengutamakan pelayanan promotif dan
preventif  secara  berkesinamb ungan  tanpa  mengabaikan  pelayanan  kuratif  dan
rehabilitatif  secara  menyeluruh  dan  terpadu  yang  di  tukjukkkan  pada:  individu,
keluarga,  kelompok  dan  masyarakat  sebagai  kesatuan  utuh  melalui  proses
keperawatan  (Nursing  Process)  untuk  meningkatkan  fungsi  kehi dupan  manusia
secara optimal sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan.
Winslow  (1920),  adalah  seorang  ahli  kesehatan  masyarakat  /  tokoh
Public Health, membuat batasan yang sampai saat ini masih relevan, yakni Public
Health  atau  kesehatan  masyarakat  ada lah  ilmu  dan  seni  mencegah  penyakit,
memoerpanjang hidup, dan meningkatkan efisiensi hidup melalui upaya : Usaha
– usaha pengorganisasian masyarakat untuk :
1. Kelompok- kelompok masyarakat yang terkoordinir
2. Perbaikan kesehatan lingkungan
3. Memberantas dan mencegah penyakit menular
4. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat / perorangan
5. Dilaksanakan  dengan  mengkoordinasikan  tenaga  kesehatan  dalam  satu
wadah  pelayanan  kesehatan  masyarakat  yang  mampu  menumbuhkan
swadaya  masyarakat  untuk  peningkatan  deraja t  kesehatan  masyarakat
secara optimal.

Tujuan,  Sasaran  dan  Strategi  Intervensi  Keperawatan
Komunitas
A. Tujuan Keperawatan Komunitas
Tujuan keperawatan komunitas adalah untuk pencegahan dan peningkatan
kesehatan melalui upaya:
1) Pelayanan  keperawatan  secara   langsung  (direct  care)  terhadap
individu,dan kelompok dalam konteks kominitas.
2) Perhatian  langsung  terhadap  kesehatan  seluruh  masyarakat  (Health
General  Community)  dan  mempertimbangkan  bagaimana  masalah
atau  issue  kesehatan  masyarakat  dapat  mempengaruhi  ke luarga,
individu, dan kelompok.
Dan  selanjutnya  secara  spesifik  diharapkan:  individu,  keluarga,  kelompok
dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk:
1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang di alami
2) Menetapkan  masalah  kesehatan  dan  memprioritaskan  masalah tersebut.
3) Merumuskan serta memecahkan.
4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi.
5) Mengevaluasi  sejauh  mana  pemecahan  masalah  yang  mereka  hadapi
yang  akhirnya  dapat  meningkatkan  kemampuan  dalam  memelihara
kasehatan secara mandiri (Self Care).

B.  Sasaran Keperawatan Komunitas
Individu
Individu  adalah  anggota  keluarga  sebagai  kesatuan  utuh  dari  aspek
biologi, psikologi, sosial dan spiritual. Apabila dari individu mempunyai
masalah kesehatan maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga
lainnya.  Peran  perawat  komunitas  adalah  membantu  memenuhi
kebutuhan  dasarnya  (kelemahan  fisik/mental,  kurang  pengetahuan,
kurang motivasi).
Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas KK,
anggota  keluarga  yang  tinggal  dalam  satu  rumah tangga  karena
pertalian darah / ikatan perkawinan atau adopsi
Fokus pelayanan kesehatan keluarga :
Keluarga sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan
Keluarga  mempunyai  peran  utama  dalam  pemeliharaan  seluruh
anggota keluarga.
Masalah kesehatan dalam salin g berkaitan
Dicision Making, keluarga sebagai tempat pengambilan keputusan.
Keluarga sebagai perantara efektif dalam usaha kesehatan
Kelompok Khusus
Adalah sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin,
umur,  problem,  kegiatan  yang  terorganisir   yang  sangat  rawan
terhadap masalah kesehatan.
a) Kelompok  Khusus,  adalah  dengan  kebutuhan  kesehatan  khusus
sebagai  akibat  perkembangan  dan  pertumbuhan  (growth  &
development), misal; Bumil, Bayi baru lahir, anak balita, anak usia
sekolah, lansia.
b) Kelompok  dengan  kesehatan  khusus  yang  memerlukan
pengawasan; kasus penyakit kelamin, TBC, AIDS, kusta, dll


C. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas
1) Proses Kelompok (Group Process)
2) Pendidikan Kesehatan / Health Promotion
3) Kerja Sama (partnership)
Prinsip Keperawatan Komunitas
1) Kemanfaatan
Intervensi / pelaksanaan harus memberikan manfaat sebesar -besarnya bagi
komunitas, artinya adanya keseimbangan antara manfaat dan kerugian.
2) Autonomi
Diberikan  kebebasan  untuk  melakukan  /  memilih  alternative  yang  terbaik
yang disediakan untuk komunitas.
3) Keadilan
Melakukan  upaya  atau  tindakan  sesuai  dengan  kemampuan  /  kapasitas
komunitasnya.

Falsafah Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas merupakan pelayanan terhadap pengaruh lingkungan ;
bio, psiko, sosio, cultural, dan spir itual.
Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari

a. Manusia
Sebagai  klien  berarti  sekumpulan  individu  /  klien  yang  memiliki  nilai,
keyakinan, minat, dan interaksi satu sama lain untuk mencapai tujuan.
b. Kesehatan
Adalah  suatu  kondisi  terbebasnya  dari  gangguan  pemenuhan  kebutuhan
dasar  klien  /  komunitas. Sehat  merupakan  keseimbangan  yang  dinamis
sebagai dampak dari keberhasilan mengatasi stressor.
c. Lingkungan
Semua  factor  internal  dan  eksternal  /  pengaruh  disekitar  klien  yang
bersifat biologis, psikologis, social, cultural dan spiritual.
d. Keperawatan
Intervensi bertujuan untuk menekan stressor / meningkatkan kemampuan
klien melalui upaya pencegahan primer, sekunder dan tertier.

Tingkat Pencegahan Dalam Keperawatan Komunitas
Berfokus pada kebutuhan dasar komunitas, kebiasaan, pola perilaku masyarakat
yang  tidak  sehat,  ketidakmampuan  masyarakat  beradaptasi  dengan  lingkungan
internal & eksternal.
Intervensi Keperawatan Mencakup :
Pendidikan kesehatan
Mendemonstrasikan ketrampi lan dasar yang dapat dilakukan di komunitas
Memerlukan keahlian perawat ; melakukan konseling
Kerjasama lintas program dan lintas sektoral
Rujukan keperawatan dan non keperawatan apabila diperlukan
 Pencegahan berdasarkan pendapat Leavell dan Clark (Prepathogenesis Phase
& Pathogenesis Phase).
1. Prepathogenesis – (Primary Prevention / pencegahan Primer)
Prepathogenesis suatu kejadian penyakit atau masalah kesehatan
Primary  prevention  merupakan  suatu  usaha  agar  masyarakat  yang  berada
dalam stage of optimum he alth tidak jatuh kedalam stage yang lebih buruk.
Primary Prevention dilakukan dengan 2 cara :
a. Health Promotion
Yaitu peningkatan status kesehatan masyarakat melalui ;
Health education
Growth and development monitoring
Marriage counseling
Sex education

Pengendalian lingkungan / P 2 M
Askep pre natal
Stimulasi dan bimbingan dini
Perlindungan gizi
Penyuluhan untuk pencegahan keracunan
b. General and Specific protection
Imunisasi,  personal  hygiene,  accidental  safety,  kesehatan  kerja
perlindungan  diri  dari  bahan  ki mia  /  toxin,  pengendalian  sumber
pencemaran.
2. Pathogenesis Phase
a. Secondary prevention (pencegahan Sekunder)
Yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang masih sedang sakit, dengan
2 kegiatan ;
a) Early  diagnosis  and  prompt  treatment  (diagnosis  dini  &  pengobatan
segera / adekuat), melalui :
Penemuan  kasus  secara  dini,  pemeriksaan  umum  lengkap,
penanganan kasus survey terhadap kontak, dll.
b) Disability limitation (pembatasan kecatatan)
Penyempurnaan & identifikasi terapi tujuan
Pencegahan komplikasi
Perbaikan fasilitas kesehatan
Penurunan beban social penderita, dll
b. Tertiary prevention (pencegahan tersier)
Yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang setelah sembuh dari
sakit serta mengalami kecatatan antara lain :
Penkesh  lanjutan,  terapi  kerja,  perkampungan  rehabi litasi  social,
penyadaran masyarakat, lembaga rehabilitasi, dll.
Asumsi Dasar dan Keyakinan Dalam Keperawatan Komunitas
1. Asumsi Dasar
Menurut ANA, (1989), asumsi dasar keperawatan didasarkan pada asumsi ;
Sistem pelayanan kesehatan bersifat kompleks
Pelayanan  kesehatan  primer,  sekunder,  tertier  merupakan  komponen
system pelayanan kesehatan
Keperawatan  merupakan  subsistem  pelayanan  kesehatan,  dimana  hasil
pendidikan dan penelitian melandasi praktek.
Fokus  utama  adalah  keperawatan  primer,  sehingga  keperawat an
komunitas perlu dikembangkan dalam kesehatan utama.
2. Keyakinan
Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia dan terjangkau
Penyusunan  kebijakan  seharusnya  seharusnya  melibatkan  penerima
pelayanan / komunitas
Perawat  (pemberi  pelayanan)  dank  lien  (penerima  pel ayanan)  perlu
terjalin kerjasama yang baik
Lingkungan  dapat  mempengaruhi  kesehatan  komunitas  (mendukung  /
menghambat)
Pencegahan penyakit dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehtan
Kesehatan merupakan tanggung jawab setiap orang